Madinah Kota Ibadah siap Melayani Umroh Ramadhan

Nuha Zahira/ July 18, 2017/ General

Madinah pada zamannya adalah kota yang relatif modern, karena kehidupan yang berlangsung didalamnya mencerminkan modernitas. Hal ini cukup untuk menggambarkan Madinah pada masa kini. Modernitas tersebut senantiasa terpelihara dengan baik, karena terdapat Masjid Nabawi, yang mana didalamnya terdapat makam Muhammad SAW.

Secara sepintas dapat dikatakan, bahwa modernitas yang terdapat di kota ini semakin paripurna, karena tidak seperti kota-kota modern lainnya yang identik dengan perdagangan dan transaksi ekonomi lainnya. Madinah identik dengan kota ibadah dalam rangka memperbarui spiritualitas kaum muslimin. Dengan paket Umroh ramadhan yang murah kita dapat beribadah di kota Madinah.

Madinah modern merupakan perpaduan antara modernitas dan spiritualitas, yang tidak mudah didapatkan di tempat mana pun. Padanannya terdapat di Mekkah dan Jerusalem. Kota-kota suci tersebut juga mampu memadukan antara modernitas dan spiritualitas. Bedanya adalah jika Mekkah dan Madinah modern tidak dijadikan sebagai pusat pemerintahan, tetapi Jerusalem dijadikan sebagai kota pemerintahan. Mekkah dan Madinah modern adalah kota ibadah yang siap melayani siapa pun yang hendak berziarah dan melaksanakan ritual.

Hampir bisa dipastikan, bahwa setiap tahun jutaan kaum muslimin dari travel umroh bekasi mendatangi kota suci ini, karena selain melaksanakan umrah dan haji, mereka juga melanjutkan ritual ziarah ke Madinah. Bagi mereka, rasanya tidak lengkap jika tidak berkunjung ke tempat yang bersejarah tersebut. Jika Mekkah identik dengan kota Ibrahim, maka Madinah identik dengan kota Muhammad SAW.

Sedangkan Jerusalem, identik dengan Musa, Isa, dan Muhammad SAW. Sebab itu, umat agama-agama samawi berziarah ke kota Jerusalem, yang mana menggambarkan persaudaraan diantara umat agama-agama Yahudi, Kristen, dan Islam.

Madinah modern sama dengan Mekkah dan berbeda dengan Jerusalem, karena kota ini menjadi sangat spesifik untuk kaum muslimin. Umat agama-agama lainnya, seperti Yahudi dn Kristen tidak diperkenankan memasuki area yang disebut dengan al-haram, atau wilayah kota suci. Bahkan, begitu cintanya pada Madinah, para ulama-ulama terdahulu menganggap tanah di sekitar Masjid Nabawi adalah tanah yang suci. Mereka memilih untuk berjalan kaki dan melepaskan kendaraan yang dinaikinya untuk memberikan penghormatan terhadap upaya Nabi dalam membebaskan Madinah dari berbagai kecenderungan politeisme dan otoritarianisme.

Besarnya jumlah kaum muslimin yang mendatangi Madinah dari hari ke hari, maka kota ini akan terlihat ramai setiap saat. Mereka menjadikan kota ini layaknya kampung halaman, yang mana ketika melakukan ziarah selalu merasakan ketenangan dan ketenteraman jiwa. Mereka merasakan ada pancaran nilai dan moral yang sangat kuat. Apalagi kaum muslimin yang mengenal dengan baik perjalanan hidup Nabi di madinah dengan segala suka dan dukanya. Atas kekuasaan Ilahi dan perjuangan keras yang tiada putus asa.